LOVE, FOOD, REMEMBRANCE

Being family, some things are being passed through generation unconsciously. I have a lot of friends who are lawyer or studied law because their parents are lawyers. Most of them did not enroll in law school because of their parents’ demand, but unconsciously refer to law as an interesting subject and a choice of subject when entering college.

In my case, I’ve never remember having cooking as a hobby when I was a kid. My late grandma was an amazing cook. She can cook almost everything but to pick a niche, hers was Manadonese cuisine. We used to sleep over at her house every weekend, and on Saturday afternoons she would cook for us. Oh and how the whole house was full with mouthwatering aroma of spices and chicken broth and butter and yes, love. Her kitchen, as I recall, was always big, roomy and had tall ceilings. She had this old-school oven where she baked her ultra-moist, fluffy and warm chocolate cake and a large fridge where she sat her caramel puddings before serving them. As I close my eyes just now, I can imagine me running across her living room with dirty hands and feet trying to grab the first taste of that unforgettable chocolate cake. On my birthday parties, her Lasagna was the crème of the crop and even after years people have not stop praising her cooking.

But I have never helped her, or shown any kind of interest in cooking then. Yes I did write several impossible recipes such as “Whale Stew” and “Zebra Curry” in elementary school. But those were out of my love for writing, not for cooking. I do love food, but just as all other people do, I (thought I) only love eating not preparing them. Having a solid learning source for cooking that my grandma was, I’ve never even thought of asking her to teach me how to cook.

But I guess, that is what humans do best. Taking things for granted.

My grandma had her first stroke when I was in high school and another attack a couple of years later. Since then, her physical ability has been gradually decreasing, and so did her cooking skills. Gone were those days of eating her ikan bakar rica-rica or tekwan until we are more than full (or as the Manadonese would say: sampe so mo tahede-hede, so nae di kapala tu ikang), or racing to the kitchen to have the first taste of her cakes. With her being sick, there was nothing else more important than her health. None of the family even bothers to take care of her most important legacy ever, her cooking. As her first granddaughter, I should’ve been the one with the initiative to document all of her recipes, to spend times with her talking about anything on her last days. But I didn’t. She passed away on October 2009. To date, it was still one of my biggest regrets of all time.

I started to cook regularly in 2008 due to the demand of being able to take care of myself to the fullest extent (read: basic survival skill). Plus, it’s exhilarating. In fact it’s a method of contemplation.  When I am not in a good mood the best thing to do is to start preparing pans and pots and cook whatever available in my fridge. I personally find the sound of cooking wares clasping each other and the mouthwatering aroma of freshly stir-fried onions and chili as a very calming orchestra.

As cooking is no rocket science, and with tons of easily find recipes out there, what once seemed so difficult became part of my daily life, unconsciously. I can’t help but to imagine if my grandma is still with us. We might be sharing recipes and transferring skills and do other fun things in the kitchen. Putting my regret aside, I’m sure that I’m not too late to start embracing her heritage. Who knows, my future children may learn about one most important thing in life through my cooking: love.

*In loving memory of my late grandmother: Wiesye Paat-Winckler*

INTERMEZZO: SOCIAL ENTREPRENEURSHIP, MIMPI, PASSION, SAYA

Mungkin saya yang agak basi, karena belakangan tahu soal Social Entrepreneurship. Itupun setelah diberitahu oleh Career Coach Renee Suhardono dalam kunjungannya ke kantor saya beberapa bulan yang  lalu. Kala itu saya bertanya “Coach, saya sangat sadar bahwa passion saya adalah berkegiatan sosial, berbagi dengan orang-orang yang membutuhkan, membantu yang kesulitan. Tapi, yang kayak gitu nggak ada uangnya. Padahal saya kan, harus bantu-bantu orangtua. Solusinya?”. Sang coach ngetop pun menjawab “Sudah pernah dengar soal Social Entrepreneurship?”, dan saya pun bengong.

Begitu banyak definisi yang beredar, tapi pada intinya seorang social entrepreneur sendiri bisa digambarkan sebagai seorang wirausaha yang social driven, bergerak tidak dimotivasi profit melainkan misi mengatasi problem sosial yang ada. Profit yang dihasilkan oleh enterprise yang bersangkutan dikembalikan untuk kepentingan bersama. Berbeda dengan business entrepreneur yang mengukur keberhasilan lewat profit, maka seorang social entrepreneur terfokus pada bagaimana menciptakan social capital. Pelaksanaan SE tidak selalu harus dilaksanakan murni oleh seorang social entrepreneur. Entitas bisnis biasa pun dapat berpartisipasi dalam kegiatan SE melalui program Corporate Social Responsibility mereka.

Sebenarnya, konsep SE itu sendiri sudah sejak lama ada. Robert Owen, pendiri koperasi sudah memulainya sejak tahun 1831. Contoh yang mungkin paling populer dan relevan adalah Muhammad Yunus dan Grameen Bank yang berangkat dari upaya pemberdayaan wanita kalangan bawah di Bangladesh. Sayangnya, di Indonesia konsep ini belum terlalu ngetop. Belum ngetop, karena mungkin kurang diperkenalkan.

SE, in my opinion, sangat baik untuk dijadikan salah satu strategi peningkatan taraf hidup masyarakat pada umumnya di Indonesia. Terutama karena SE membuka peluang untuk penciptaan lapangan kerja baru, dan menjadi sarana belajar yang nantinya akan dapat mencetak wirausaha-wirausaha baru. Karena itu, sayang sekali jika SE kurang diperkenalkan kepada masyarakat luas.

Begitu banyak blog dan tulisan yang membahas SE, mungkin saatnya memasyarakatkan dengan cara yang lebih practical. Ini sebabnya ketika kawan-kawan program MBA UGM mengajak kerjasama dengan Mien Uno Foundation untuk acara seminar/workshop kampus, topik inilah yang pertama kali melintas sebagai ide tema.

Ah, saya masih harus belajar terlalu banyak soal ini sebelum bisa menjadikannya pilihan karir seperti saran Career Coach.

Kalau kata peserta TV Champion: “Doakan saya, ya” :)

#Misi21 “PELAJARAN 1: IT’S NOT ABOUT HOW MUCH I HAVE”

“It ain’t about the size of your car
It’s about the size of the faith in your heart – India Arie”

Tahun baru 2010 bukan tahun yang mudah bagi saya dan bagi siapapun. Bahkan ketika diminta seorang teman untuk mendeskripsikan tahun 2010 dalam satu kata, saya jawab kata yang tepat adalah “Struggling”. Perjuangan untuk bertahan dalam situasi yang terus berubah, kondisi keuangan yang nggak kondusif, hubungan-hubungan yang mulur mengkeret dan pekerjaan yang sulit. Ketimbang tahun 2009 yang lebih stabil, rasanya begitu banyak yang bisa dikeluhkan dari twenty’o’ten.

Semuanya berawal dari keberanian (baca: nekad) saya keluar dari zona nyaman. Berganti pekerjaan karena ingin mencari tahu apa sebenarnya passion saya, untuk kemudian kembali lagi ke pekerjaan lama karena ternyata mencintai pekerjaan tersebut. Nekad meninggalkan keajegan, setengah tidak berpikir, mengikuti kata hati, bertindak dengan intuisi. Dan siapa bilang cerita-cerita tentang mengikuti kata hati itu harus selalu cerita yang happy ending? Pada banyak kasus, tindakan seperti itu justru seperti membuka kotak pandora.

Dan ketika saya sampai di titik dimana energi saya terkuras habis, terus terang saya tidak bersyukur. Tidak ada hasil riil yang bisa saya lihat, pegang, nikmati dan miliki dari aksi nekad saya. Yang ada malahan kecenderungan untuk menyalahkan diri sendiri dan berulang-ulang berkata dalam hati “coba kalau dulu..”. Begitu terfokusnya saya pada “salah-pilih” yang saya lakukan sampai mempengaruhi kondisi fisik dan menjadikan tahun 2010 sebagai tahun tersering masuk rumah sakit.

Lalu sebuah percakapan kecil dengan Mbak Jum, asisten rumah tangga di rumah Ibu saya, mengusik saya yang saat itu lagi terlalu asyik meratapi nasib.

Kakak, lagi sakit ya kata mama? Kakak sakit terus. Banyak pikiran?”

Saya mengiyakan.

“Mbak juga. Untungnya nggak sampe sakit. Kalau sampe sakit, siapa cari duit?”

Lalu si Mbak mulai bercerita soal hidupnya yang ternyata tidak kalah dramatis dengan drama hidupnya KD-Raul Lemos tahun ini. Suami pengangguran, menolak cari kerjaan, selingkuh pula. Anak sulung laki-laki yang diharapkan bisa bantu orangtua, kabur entah kemana karena nggak dibelikan handphone. Motor, satu-satunya harta yang dibeli dari hasil jerih payah kerja bertahun-tahun, digadaikan untuk bayar hutang judi suami. Tinggallah Mbak Jum yang harus banting tulang untuk membayar biaya kontrakan, makan sehari-hari dan biaya sekolah anak bungsunya yang masih kelas 3 SD. Sesekali suaranya tertahan, semacam menahan tangis, tapi tidak sekalipun air matanya keluar. Semua diceritakan sembari menyapu dan membersihkan kamar Ibu saya yang berantakan karena diambil-alih oleh saya.

“Yah, tapi mau gimana lagi, kak? Kalau itung-itung susahnya, emang nggak abis-abis, kak. Yang penting percaya aja sama yang diatas, kalau yang diatas mau nya begini, pasti ada maksudnya. Yang penting saya sehat, anak sehat, masih ada tempat neduh, masih bisa beli nasi. Masih ada temen-temen di kontrakan. Yang sedikit rasanya bisa banyak kalau disyukurin terus”.

Yang sedikit, rasanya bisa banyak kalau terus disyukuri. That’s her grand philosophy.

Itu yang membuat Mbak Jum, lulusan SMP yang mungkin tidak pernah baca buku self-help apapun, kuat dan legowo menjalani hidup. Hidup yang kalau diukur hanya dengan ukuran materi, rasanya masih jauh sekali dari ukuran bahagia.

It’s not, and never about how much I have. Bila hidup terus-menerus diukur dari banyaknya uang, harta kekayaan dan jabatan, kita nggak akan pernah berhenti untuk tidak bersyukur karena hal-hal yang demikian tidak akan pernah cukup. Saya sadar bahwa hal-hal yang kadang dianggap remeh dan intangible, seperti dukungan tiada henti dari orangtua serta kasih sayang teman-teman ternyata adalah sumber kebahagiaan yang paling utama dalam hidup. Itu cukup, lebih dari cukup.

And that, i have to learn from a simple person with such a mighty heart, Mbak Jum.

Happy new year 2011, all.

[#Misi21 adalah sebuah pergerakan yang dirintis oleh Rene Suhardono, sang Career Coach yang terkenal dengan bukunya "Your Job Is Not Your Career" via twitter. Terbuka untuk siapapun, Renee menantang untuk melakukan new awesome (and sinless) thing selama 21 hari berturut-turut. This blog post is my mission. Akan ada 20 posts lainnya yang pada intinya menceritakan life-saving lessons yang saya dapat di tahun 2010, dengan cerita tentang orang-orang yang menginspirasi saya. I hope it'll inspires you too. Cheers! :) ]

Catatan Si Guru (Gadungan)

Guru jempolan

Sebelum saya jadi guru, saya tidak pernah mengerti kenapa guru-guru saya sewaktu SD sering sekali marah pada saya. Yang namanya hukuman, wah jangan tanya. Segala jenis sudah dialami. Dari menunggu di luar gerbang, hormat tiang bendera saat teman-teman lagi istirahat, sampai mulut dilakban. Sering juga orangtua dipanggil. Padahal saya sering jadi pengurus kelas, selalu ikut kalau ada lomba mewakili sekolah, peringkat di kelas juga tidak pernah keluar dari 5 besar.

Sebabnya, saya berisik dan nggak bisa diam. Selama pelajaran berlangsung, ada saja yang dilakukan. Cekikikan dengan teman sebangku, menulis koran gossip fiktif, mengganggu teman sekelas sampai teman sekelas menangis. Tapi kenapa juga guru-guru saya harus sensi? Toh saya secara akademis tidak bermasalah, kan?

Ternyata memang betul, untuk berempati, perlu menempatkan diri di posisi orang lain yang sedang dipertanyakan tersebut. Baru setelah jadi guru, saya tahu rasanya berhadapan dengan anak seperti saya dulu ketika SD. Anak nakal, nyaris hiperaktif, terlalu banyak bertanya dan ceroboh. Rasanya kesal tapi tidak boleh nyubit, marah tapi sebisa mungkin tidak boleh membentak apalagi sampai keluar kata-kata kasar. Sudah tanggung jawab guru untuk membuat mereka tidak hanya pintar, tapi bertingkah laku baik. Jadi kenakalan dan masalah dengan kesantunan juga harus ditindak tegas.

Kalau sudah sampai di ubun-ubun, keluarlah segala jenis hukuman (kecuali yang berbau kekerasan fisik, tentu). Berdiri di pojok ruangan atau di luar kelas, tidak dapat jatah kue atau dihukum harus menjadi asisten saya selama kelas. Namun menahan emosi, wajib hukumnya.

Guru juga manusia. Mereka pun punya kehidupan lain selepas mengajar, yang sering tidak kita pahami sebagai murid. Mereka berkutat dengan masalah keluarga, dan yang nyaris pasti sebagai seorang guru: masalah keuangan. Apapun masalah itu, mereka sudah berkomitmen untuk menjadi orangtua kedua bagi murid-muridnya. Untuk menjadi tokoh yang bisa digugu dan ditiru, kalau menurut Ki Hajar Dewantara. Kebijaksanaan dan kewibawaan itu tidak pernah boleh lepas selama mereka masih berada di lingkungan sekolah.

Ketika menjadi lawyer, tidak jarang saya harus meeting pagi saat malamnya baru bertengkar dengan orangtua atau teman. Rasanya berat sekali, padahal meeting paling lama saya hadapi hanya 3-4 jam. Itupun tidak jadi pemimpin meeting, dan ketika bicara emosi bisa datar saja. Guru, apapun yang dia hadapi selepas pukul 3 sore di sekolah, harus tetap prima dan menjaga emosi serta sikapnya sebaik mungkin keesokan harinya, dari awal hingga akhir sekolah hari itu. Bahkan dia harus terlihat sebahagia mungkin dan penuh dengan semangat, agar semangat itu menular pada murid-muridnya.

Bukan main sulitnya. Semakin saya pikirkan, semakin timbul rasa hormat saya pada guru-guru saya ketika di sekolah dulu. Dan semakin pula merasa diri kurang ajar karena tidak pernah berusaha menghubungi, membantu atau sekedar sowan ke sekolah. Bahkan, beberapa guru saya tidak pernah tahu sekarang ada dimana, dan bagaimana keadaannya.

Sebelum saya berusaha fokus penuh untuk mengejar semua mimpi dan cita-cita, sebaiknya saya kembali dulu pada orang-orang yang sudah membuat saya mengenal cita-cita itu sendiri. Kepada mereka yang sudah memperkenalkan saya pada passion dan membuka jalan saya pada mimpi-mimpi saya. Ya, kembali pada asal saya, sebagai penghargaan atas perjuangan yang tiada henti untuk menjadikan saya manusia yang berakhlak. Perjuangan yang bahkan tidak pernah mengharapkan banyak imbalan.

Semoga rencana ini lancar dan direstui Tuhan.

Salut dan segala hormat untukmu, guru-guruku.

*Gambar diambil dari sini

Berkemas

The box that contains 2 years worth of stories

Saya benci berkemas. Sebutlah untuk liburan, acara keluarga, dinas atau berkemas untuk keperluan dua malam, tiga malam, seminggu, saya tetap sama tidak sukanya. Mengapa? Karena berkemas itu sulit. Tidak sekedar menggulung, melipat, merapihkan, tetapi juga memilah-milah. Membuat skala prioritas. Mempertimbangkan dan bahkan membuat “forecast” mengenai apa yang harus dibawa dan apa yang kira-kira dibutuhkan nantinya. Sebab, tentu saja tidak semua barang di rumah bisa saya muat dalam ruang yang terbatas. Ditambah dengan fakta bahwa nantinya barang-barang yang dikemasi harus dibongkar lagi, lengkaplah kebencian saya pada urusan “kemas-berkemas”.

Jadi, bayangkan perasaan saya saat harus membereskan meja kerja saya, menjelang hari terakhir di tempat kerja yang sekarang.

Desember ini, genap 2 tahun “masa bakti” saya di sini. Maka berkemas artinya: I have to clean up all of those messes I’ve made during the last 2 years. Lama sekali saya berdiri memandangi meja saya sebelum memulai. Gunung kertas salinan pekerjaan dan peraturan perundang-undangan, buku-buku hukum (Yang fungsinya memang lebih ke arah pajangan ketimbang referensi saat bekerja), hiasan meja, stationery, toiletries, parfum, obat, baju hasil belanja online, stocking, jaket dan selusin tumpukan kotak sepatu. Sungguh tidak tahu harus saya mulai dari mana. Tapi toh, saya harus mulai.

Saya sudah menyangka bahwa proses berkemas ini akan jadi proses yang menyebalkan dan membuat gatal-gatal, seperti biasanya. Yang tidak saya sangka, proses berkemas ini juga menjadi proses yang mengharukan, saat pelan-pelan saya bongkar semua simpanan memori dalam otak saya, seiring dengan kegiatan memilah barang-barang saya.

Ini seperti mengemasi “kisah hidup” saya selama 2 tahun.

Ketika menemukan kontrak kerja dan peraturan perusahaan tersimpan rapih dalam sebuah folder plastik, saya teringat hari-hari awal saya. Saat saya masih suka kangen dengan kantor lama dan setiap hari berdoa supaya tidak kena marah partner dan tidak dimusuhi teman-teman baru. Ketika menemukan fotokopi KTP salah seorang businessman handal Indonesia yang khusus dibawa pulang dari tempat due diligence, saya teringat hari-hari ramai di cubicle. Saat pulang jam 11 malam pernah bukan menjadi masalah bagi kami, karena ramainya teman-teman yang juga harus lembur bersama. Ketika memasukkan CD Jason Mraz, saya teringat project besar pertama saya yang membuat saya (untuk pertama kalinya) harus menghabiskan sehari penuh tanggalan merah untuk stand by di kantor. Saya bahkan menemukan salinan script drama anak-anak baru dan program book outing tahun lalu.

Sungguh sulit proses berkemas hari ini, karena inilah kali pertama saya tidak tahu mana yang harus saya bawa dan mana yang harus saya tinggal. Saya. Sungguh. Sungguh. Ingin. Bawa. Semuanya.

Tapi, seperti halnya “berkemas” barang-barang biasa, saya tahu ada yang harus diprioritaskan. Saya tahu apa yang saya utamakan. Saya hanya ingin bawa kenangan yang baik-baik dan manis-manis. Kenangan yang bikin saya tertawa kalau teringat, yang bagus-bagus soal kantor yang telah turut serta mendewasakan saya. Yang buruk, kenangan salah paham dengan atasan, berselisih paham sedikit dengan teman, agak kecewa dengan kebijakan manajemen, biarlah saya tinggalkan jauh-jauh di belakang. Bagaimanapun juga, dari semua kenangan yang jelek-jelek, saya sudah belajar untuk memperbaiki diri. Menyimpan kenangan buruk, efeknya tidak pernah bagus. Hanya menyebabkan dendam dan luka yang tidak sembuh-sembuh, dan hanya orang bodoh yang mau hidup dengan luka yang tidak sembuh-sembuh selama mungkin.

Dan lagipula, saya tidak perlu takut lupa kenangan yang bagus-bagus. Tidak perlu takut berubah jadi orang lupa diri karena lupa pada tempat yang telah banyak memberikan pengaruh positif pada saya. Toh, kenangan yang bagus-bagus itu sudah “bertransformasi” jadi karakter saya sekarang ini, yang melekat dan akan saya bawa kemanapun saya pergi, meskipun barang-barang fisiknya sudah saya buang (atas nama gerakan Reduce, Reuse and Recycle).

Maka proses berkemas pun berubah menjadi jauh lebih ringan dan melegakan, saat hari ini saya menutup boks berlabel firm ternama itu, membawanya keluar ruangan sembari mengungkapkan rasa syukur saya atas 2 tahunnya yang telah meninggalkan kesan luar biasa mendalam.

Terimakasih, Hiswara Bunjamin & Tandjung.

Memberi (Baiknya) Tanpa/Dengan Motivasi?

Lampu merah Fatmawati menuju Cilandak, Minggu siang. Seorang pengemis melongok di balik kaca jendela pengemudi. Tipikal, ibu-ibu gemuk kumal berwajah malas berdiri disanggah tongkat. Pura-puranya Pincang.

“Tan, ada pengemis tuh,” sahut saya acuh kepada Tante saya. Mata saya terus-menerus memperhatikan layar Blackberry. Jari-jari, sibuk mengetik tweet terbaru. Tante saya tidak kalah acuh. Tangannya sibuk membetulkan earphone sambil sesekali menimpali obrolan temannya di ujung telepon yang satunya.

“Ada seribuan kamu?” dia bertanya. Saya menggeleng sambil menatap tidak rela dan penuh sayang  pada limaribuan yang menyembul dari kantong depan tas saya. “Tante aja, aku adanya limaribuan”.

Pengemis kelihatan gelisah. Kami tidak memberi isyarat penolakan, tapi juga tidak kunjung memberi.

“Udah! Ni ada gopek!” saya bergegas mengoper logam bundar tipis itu kepada tante saya yang kemudian membuka kaca nya sedikit untuk memberikan uang tersebut pada si pengemis bingung.

“Sayang ya lima ribu nya? Palingan dia cuma pura-pura cacat tuh, dikasih banyak malah kesenengan nanti. Udah nipu, dapat lima ribu. Lumayan kan,” timpal tante. Saya mengiyakan dengan tawa. Lalu kembali kami sibuk dalam sihir Blackberry dan telepon genggam masing-masing.

Kali lain, acara persiapan guru sekolah minggu. Belasan orang usia dewasa sedang bingung mencari cara yang tepat untuk menyampaikan pesan “Memberi dengan tulus, tanpa pamrih” untuk anak-anak usia bawah lima tahun sampai Sekolah Dasar. Ditekankan bahwa kami semua, melalui cerita, akan berusaha memberi pengertian mengenai pemberian bagi orang-orang yang sangat membutuhkan kepada anak-anak.

Salah satu senior melempar topik mengenai definisi “orang yang membutuhkan” yang menurutnya, seharusnya diperluas. Dari sekedar orang-orang yang jelas-jelas miskin, yang terlantar di pinggir jalan atau di bantaran kali, menjadi diperluas hingga karyawan rendahan seperti tenaga cleaning service di tempat-tempat umum dan office boy kita di kantor.

Seringkali, hanya karena orang-orang ini punya pekerjaan, kita “menaikkan” kelas mereka secara otomatis dan tidak menggolongkan mereka ke dalam kelompok “orang yang membutuhkan”. Padahal, kita sering secara tidak sengaja mendengar keluhan mereka ketika tidak bisa makan siang karena kurang uang, atau tidak bisa beli baju koko baru saat Lebaran karena bonus tahunan “disunat” manajemen yang merasa kantor tahun ini tidak ketemu target.

“Daripada memberi uang pada orang minta-minta di pinggir jalan yang malas dan kadang cuma pura-pura gendong bayi, lebih baik bantu orang-orang yang begini jenisnya,” kata senior saya, merujuk pada perluasan definisi yang diusulkannya.

Banyak dari kami, termasuk saya dengan pengalaman gopek-an di atas, mengangguk setuju. Bukan apa-apa, saya lumayan hafal dengan sindikat pengemis-pengemis dadakan. Rata-rata dari mereka bermental sama, pemalas. Lebih baik kan, memberi pada orang-orang yang sudah kerja keras tapi tetap saja kekurangan karena kecilnya penghasilan?

Salah satu rekan tiba-tiba mengajukan tangan di tengah adegan “manggut-manggut sepakat”. “Kak, tapi apakah ini berarti kita mengajarkan anak-anak untuk memilah orang-orang yang akan mereka beri dan bantu? Menurut saya, terlepas dari siapa yang akan diberi dan kemana uang itu akhirnya dilarikan, yang penting anak-anak naluri memberinya diasah. Mengerti tentang konsep memberi secara ikhlas”.

Gerakan “manggut-manggut sepakat” berhenti sesaat. Lalu mulai manggut-manggut lagi, menyetujui pendapat rekan yang belakangan.

Saya sendiri berhenti manggut-manggut, karena merasa berdiri di tengah-tengah.

Beberapa bulan yang lalu, percakapan serupa mengemuka di dalam boardroom kantor hukum tempat saya bekerja, saat saya dan rekan-rekan kerja berusaha memilih target untuk Corporate Social Responsibility kami. Kemana bantuan akan ditujukan? Untuk tujuan apa? Apakah untuk pendidikan atau untuk kesehatan? Atau memberi perhatian khusus pada suatu komunitas terlantar?

Salah satu kawan menyatakan bahwa sebaiknya bantuan tidak diberikan untuk pendidikan. Alasannya, dibanding bantuan kesehatan seperti pengobatan gratis, bantuan di bidang pendidikan hasilnya baru muncul dalam jangka waktu yang lebih lama. Belum tentu juga berhasil.

Saat itu, saya pun tidak manggut-manggut atau geleng-geleng. Saya mengerti, orang-orang punya motivasi sendiri-sendiri ketika memberi. Ada yang ingin memastikan bahwa pemberiannya tidak salah orang. Wong kita cari uangnya sudah susah, mosok mau diberikan pada yang nggak butuh-butuh amat atau yang pura-pura butuh? Ada juga yang ingin memastikan bahwa bantuannya pasti membuahkan hasil, dan dalam waktu yang cepat. Repot lah, kalau harus memberi untuk suatu cause yang hasilnya baru akan terlihat dalam jangka waktu lama. Kalau saya keburu mati sebelum hasilnya nongol, bagaimana? Intinya, banyak orang ingin memastikan bahwa pemberiannya tidak sia-sia.

Bila semua orang di dunia ini berangkat dari motif ingin memastikan bahwa pemberiannya tidak sia-sia, repot jadinya. Orang akan cenderung berpikir lama…… (10 menit kemudian)….. sebelum mereka memutuskan untuk memberi. Sama seperti bank mau memberi kredit, orang akan berubah menjadi analyst sebelum mereka memberikan bantuan. Latar belakangnya bagaimana, orangnya kredibel atau tidak (mau membantu tukang becak sama tukang sapu kok ya berpikir kredibel atau tidak?), dan terutama, apakah orang ini akan mempergunakan sumbangan dari pemberi dengan baik ataukah sumbangan ini tidak akan memberi dampak apapun untuk yang dibantu? Dalam kasus-kasus spesifik (tapi tidak langka), pemberi bantuan bahkan berpikir bahwa yang diberi bantuan harus sukses supaya namanya disebut-sebut juga nantinya sebagai penyelamat hidup yang dibantu.

Jangan tertawa. Yang begitu, banyak.

Kalau sudah demikian rumit dan banyak pertimbangannya, biasanya berakhir pada mosi “tidak jadi memberi karena tidak sreg dan kurang percaya”, yang bila diulang-ulang maka menyebabkan pelit dan egois permanen. Seumur hidup tidak pernah menindaklanjuti niatan untuk memberi bantuan karena, ya itu tadi, nggak yakin. Kalaupun memberi, banyak juga yang akhirnya tidak ikhlas. Ya memberi dengan ada rasa curiga jelas bukan pemberian yang ikhlas kan?

Karena ribut-ribut kecil di ruang persiapan, saya jadi membongkar ulang memori dan pemahaman saya soal beri-memberi dan bantu-membantu. Lucu, motif-motif semacam itu tidak pernah muncul di kepala saya sewaktu aktif kerja sosial. Tidak pernah mikir bahwa anak-anak harus tembus universitas semuanya, atau jadi ranking satu, atau nanti jadi presiden. Tidak pernah ada expectation yang berlebihan. Yang penting, anak-anak bisa memuaskan keinginan untuk belajar, dan anak-anak tahu bahwa mereka punya orang yang mendukung habis bila mereka ingin mengecap pendidikan. Itu saja. Meski, harus diakui bahwa perasaan tidak rela memberi gopek pada pengemis berpotongan malas sering juga munculnya.

Mungkin seharusnya pola pikir saya yang awal itu yang saya pertahankan. Saya ingat, ibu sahabat saya di SMA pernah bilang kurang lebih begini sehabis memberi pada pengamen di pinggir jalan; “Kalau ngasih, ya ngasih aja. Ikhlaskan. Yang penting niatmu baik, nggak usah dipikirin kemana akhirnya, dibuat apa uangnya. Didoakan waktu memberi, minta Allah yang atur supaya kegunaan uangnya untuk hal-hal yang baik”. Bijaksana sekali. Beliau punya poin yang sama dengan rekan saya di sekolah minggu. Terutama saat mengajar pada anak-anak kecil, memberi dengan ikhlas tanpa mengharap timbal balik adalah sesuatu yang harus ditulis dalam huruf besar, digarisbawahi dan ditebalkan. Tuhan sudah begitu baik memberikan limpahan karunia dan anugerah, masa untuk give back saja dilakukan dengan perasaan curiga dan tidak ikhlas?

Relakan, doakan, dan rasakan betapa hangatnya hati saat melihat senyum orang-orang yang dibantu. Kebahagiaan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata, lebih berharga dari kata terimakasih dan bahkan dari perasaan ingin melihat hasil akhir bantuan.

Lama, baru saya ikut dalam gerakan “manggut-manggut sepakat”. Kali ini bukan karena manggut-manggut kawan saya “nyetrum”, tapi karena saya benar-benar sepakat. Mulai besok, tidak boleh curiga lagi waktu memberi uang pada pengemis, batin saya.

Daripada kelamaan mikir?

Gambar diambil (dan merupakan miliknya) sini.

Sebelum Anda Menghakimi

 

Senin, 30 Oktober 2009, sekitar pukul 16.00 WIB:

“Dav, ada cewek lompat dari depan toko kesukaan kamu, tuh di Grand Indo”

Masih hari yang sama, malam harinya:

Another suicide in Sency, this time a guy

Twitter memang dashyat. Untuk entah keberapa kalinya ia membuktikan bahwa ia jauh lebih cepat dari situs berita kenamaan Ibukota yang biasanya ekstra cepat menyampaikan berita. Dalam hitungan menit, foto-foto tragis pelaku bunuh diri di dua pusat perbelanjaan di Jakarta itu “mendunia”. Bahkan salah satu gambar di re-tweet oleh kawan saya di Birmingham, sebelum ada kawan-kawan dekat di Jakarta yang melakukannya.

Dan layaknya kontoversi di manapun, selalu mengundang komentar. Berbagai versi komentar, dari yang meminta aksi ”retweet” foto untuk disudahi karena sekiranya bisa menyakiti hati keluarga yang ditinggalkan hingga, ini yang tersering, mencibir pelaku bunuh diri.

Whatever the reason is, suicide is not an answer” dan sejenisnya, bahkan yang lebih kasar.

Dalam hati, saya tertawa. Kalimat yang bagus dan membangun, itu jelas. Dalam agama saya, bunuh diri jelas tidak diperbolehkan Tuhan. Masih ada optimisme dan kekuatan yang bisa kita dapatkan dari Tuhan, ketimbang menyia-nyiakan hidup atas nama keputusasaan. Bukan, bukan ide ”bunuh diri itu salah” yang saya tertawakan.

Berapa banyak sih dari orang yang mem-post kalimat-kalimat demikian di twitter yang pernah mengalami situasi mentok hingga ingin bunuh diri? Saya yakin, seperempatnya pun tidak sampai. Bahkan mungkin, semuanya belum pernah. Kalau sudah pernah, pasti lebih hati-hati memilih kata-kata agar tidak terdengar menghakimi.

Kalau saja orang-orang itu pernah, paling tidak memiliki setitik gambaran soal rasanya ditindih masalah berat yang (sepertinya) tidak ada jalan keluar. Apa indikasinya? Kalau anda masih bisa memikirkan suatu solusi yang bisa dijalani, maka berarti masalah anda belum cukup berat untuk bisa menyebabkan kondisi ”suicidal”. And no, it means you guys have no idea on how does it feels to be suicidal.

Semua masalah pasti ada jalan keluarnya, tapi tentu, orang yang mengalami depresi berat tidak bisa mengenali adanya solusi untuk masalah yang sedang dihadapi. Gelap mata, emosi tidak stabil, merasa sendirian. Dalam kondisi demikian, bila dijejali kata-kata utopis dan dicibir karena dianggap berdosa, tidak menghargai hidup dan Tuhan malahan membuat yang depresi makin ingin bunuh diri. Dijamin.

Saya bukan ahli jiwa, tapi paling tidak, ini berdasarkan pengalaman sendiri. Lebih valid, toh?

Jadi ketimbang mencibir, lebih baik asah kepekaan mata hati untuk melihat sekeliling. Adakah teman-teman yang sekiranya butuh ”diselamatkan” dari masalah berat dan perasaan ingin bunuh diri? Ulurkan tangan dan jangan menjauh, jadilah suportif dan open minded karena itulah yang dibutuhkan oleh teman-teman yang sedang depresi. Bukan dibicarakan di belakang, dijadikan bahan gosip. Bukan penghakiman. Kalau bunuh diri itu dosa, mah, mereka juga sudah pasti tahu.

Dan menjadi suportif dan open minded adalah apa yang sahabat-sahabat saya lakukan hampir satu setengah tahun yang lalu. What they did, saved me. Bukan lewat tudingan dan nasihat-nasihat berbunyi ”Whatever the reason is, suicide is not an answer” dan kawan-kawannya. Tapi lewat kehadiran dan dukungan yang tidak habis-habis.

Saya yakin itu (terlihat dan) terdengar lebih baik.

 

*Turut berduka cita untuk keluarga Ice dan Reno. Tolong tweets yang bersifat judgmental berhenti disebarluaskan. Keluarga yang sedang berduka pasti akan lebih berduka saat membaca anak-anak mereka terkasih dihakimi sebagai pengecut, tidak punya Tuhan, tidak beragama, tidak menghargai hidup oleh orang-orang yang bahkan tidak kenal dan tidak ikut merasakan derita mereka.

Picture courtesy of http://www.grayworld.org/Pictures/News/19.04.07/Suicide%20corner.jpg

(Have) You Pray Today?

Passerby pay respect in a temple in front of Central World Mall

I can always recall each and every visit to Bangkok as an impressive journey. All 24 hours in this Siam’s modern capital city are rush hours. The streets are jam-packed with almost all things and colors imaginable, from the posh looking Maseratti to the ever-present Tuk-tuk, pedestrian to street vendors, tourists to local ladyboy. Quoted as “the new shopping haven” and is notorious for its nightlife and eternal prostitution businesses, this city reminds me much of my own J-town and its “hustle and bustle”.

Little sanctuary in front of Platinum Fashion Mall

 

But let me tell you the one particular thing about Bangkok that impresses me a lot.

 

As a country of Buddhist majority, temples or Wat spread in almost all corners of the city. From large sized, world-known temples along Chao Praya River to those located in every shopping blocks, hotels and houses. Those temples never run out of visitors. Yes, those who come to pray and pay their respect to their gods, who would stop a while from their busy day at school or work and loose their footwear, and then graciously kneel on praying position. Some of them come to put flowers and other offerings before they pray. On Friday nights, people on their way to clubs in their party attire would do just the same. Although it felt weird to see a group of young Thai kneel and pray with full make ups and hairdo, I was beyond awed. It was a beautiful sight.

 

It reminds me of the feeling I had inside as I watched my late grandfather and uncle obediently performed Sholat, all 5 times a day.

 

As a Christian, I have no obligation to pray on particular times in a day. I believe that the philosophy is to come to God whenever you want to, as often as you can, every single day. We are given the freedom for our own ease. But as human, I tend to take such teaching for granted. In the name of work and other activities, I procrastinate praying rituals and putting it as my second priority. When I found the time to pray, I shortened the duration and summed up wishes and expression of gratitude in short sentences. It became a less intimate moment and in my case, lost its deep beauty of communicating with God.

 

Shame shame. But let’s face it, some of us (including me) often take praying for granted. Some of us even show an insincere gesture of gratitude when praying. See, when we are granted with blessings, we know that we have to thank the Almighty, so we pray. But the prayer is performed only as a “protocol”, with no intention to further show devotion to God. At some point, I even argued that what’s important in trying to live your life religiously is not praying, but the real action and love we try to give to others.

 

Of course the younger me have made a wrong point over there.

 

How can we discover God’s will if we never really communicate? How can we show real gratitude and our full submission to God if we always pray in a hurry? How can we pay respect if we chant our prayer verses without putting our soul into it? Moreover, what is the point on claiming ourselves as members of a religion if we never talk with the holy centre of it all?

 

We make room for some me-time at the end of the day and reserve more time for work and friends. We even set aside time to perform medical check-ups and gym exercise. However we find it hard to take a 10 minutes break to really pray and speak to the One who abundantly blesses us every single day.

 

And the case of the citizen of Bangkok is a perfect exhibit that the word “busy” is never an obstacle for us to pray.

 

So, have you pray today?

 

I haven’t, and I am going to do it just now.

 

 

 

IRAH.

Learning in the middle of a desert. Literally.

Di atas potongan koran tua, gadis kecil itu duduk bersila. Tangannya yang kecil dan sedikit kotor bermain-main dengan batangan pensil berwarna-warni. Pada sebuah buku tulis bekas, dia mencoba untuk menuliskan abjad demi abjad, A hingga Z, secara berurutan. Ungu dan biru muda adalah pilihan warnanya untuk hari itu. Sepertinya, dia sudah pernah belajar menulis, karena meskipun ditulis dengan bergetar dan sedikit berantakan, tidak sulit bagi saya untuk membaca tulisan kecilnya. “Siapa namanya, bu?” saya bertanya pada seorang Ibu yang duduk malas di sampingnya. Saya tidak yakin perempuan ini ibunya. Bisa saja hanya “pasangan kerja” yang diatur oleh bos mereka untuk hari itu. “Irah,” jawab ibu itu, tangannya mengelus-elus kepala Irah yang konsisten “tunduk” pada kertas kerjanya. “Umur berapa Irahnya?” saya kembali bertanya. Saya tidak basa-basi, saya ingin benar-benar tahu umur anak yang baru belajar menulis abjad ini. “Mmm..delapan? tujuh?” jawab si Ibu.

Benar kan, perempuan pemalas bertubuh besar ini bukan ibunya. Kalau Ibunya, pasti hafal dia usia si Irah.

“Irah..Irah..,” panggil saya, berusaha menarik perhatiannya. Berharap bisa menanyakan dimana belajar menulisnya, siapa gurunya, memuji ketekunannya belajar. Tapi dia hanya menoleh sekali, cepat-cepat sambil memberikan senyuman samar, lalu kembali menulis. Tenggelam dalam misteri huruf-huruf dan warna yang cantik.

Bukan, itu bukan sepenggal adegan bahagia dari kelas taman kanak-kanak, kursus membaca dan menulis untuk anak usia dini atau bahkan sesi belajar yang biasa saya jalani dulu di Sahabat Anak Tanah Abang dan Kampung Kids. Ini adalah adegan yang saya temui di jembatan penyeberangan menuju busway stop di muka Graha Niaga, dalam perjalanan pulang setelah hari yang melelahkan dan terasa sangat biasa.

Saya ingin tinggal lebih lama bersama Irah, berbagi semangat belajar milik gadis kecil berbaju kumal ini. Pelan-pelan mencerna ironi yang indah, dimana spirit “memampukan diri” yang meluap-luap adanya malahan di jembatan busway, bukannya di ruang kelas.

Sebab, kalau bukan “meluap-luap”, apalagi namanya? Di tengah-tengah bisingnya jalanan Jendral Sudirman, semburan asap kendaraan, lalu-lalang pejalan kaki dan dinginnya udara malam, Irah tetap menulis. Dengan konsentrasi penuh, hingga didapatnya nyaris 26 abjad.

Sungguh, anak kecil ini membuat saya malu. Malu dengan perbandingan yang njomplang antara semangat belajarnya dengan semangat saya sendiri yang mandeg, entah sudah berapa lama. Padahal, semua fasilitas yang lebih dari cukup, tersedia.

Dan adilkah, anak-anak dengan semangat di atas rata-rata seperti Irah, harus menjadi sekedar kisah lain dari kegagalan pemerintah terpilih dalam memenuhi janji mereka menyokong pendidikan?

Di tengah-tengah konflik institusi penegak hukum yang semakin memanas, masihkah nasib ratusan ribu Irah dipikirkan?

Sayangnya, hari itu saya memilih menjadi perempuan pengecut. Meletakkan beberapa lembar uang sepuluh ribuan di sisi Irah sambil berbisik “Buat beli buku ya, rah,” lalu berjalan pergi buru-buru. Sepanjang rute Graha Niaga-Blok M berulang-ulang mendoakan supaya Tuhan menolong Irah, lalu di rumah bertekad untuk kembali dan mengajak Irah belajar di rumah belajar Tanah Abang.

Ketika esoknya saya kembali ke jembatan itu, Irah dan sang ibu sudah tidak di sana…

Featured in Indonesian Youth Conference Blog

One of my writings has been featured in the website of Indonesian Youth Conference. In their “blog” section, people can actually send their writings about their own view regarding youth and nationalism. So if you happen to have a writing in your blog regarding the same, feel free to send it to them. If your writing passes their selection standard, they will publish it in no time.

Indonesian Youth Conference is the first national youth conference to be held in Indonesia, and will be open for public. This event will consists of table discussions and workshops involving experts in various field i.e environment, education, health, poverty, nasionalism, social entrepreneurship, information technology, creative industry and media and journalism.

If you want to dig more about the event, please visit their website .

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.