Lampu merah Fatmawati menuju Cilandak, Minggu siang. Seorang pengemis melongok di balik kaca jendela pengemudi. Tipikal, ibu-ibu gemuk kumal berwajah malas berdiri disanggah tongkat. Pura-puranya Pincang.
“Tan, ada pengemis tuh,” sahut saya acuh kepada Tante saya. Mata saya terus-menerus memperhatikan layar Blackberry. Jari-jari, sibuk mengetik tweet terbaru. Tante saya tidak kalah acuh. Tangannya sibuk membetulkan earphone sambil sesekali menimpali obrolan temannya di ujung telepon yang satunya.
“Ada seribuan kamu?” dia bertanya. Saya menggeleng sambil menatap tidak rela dan penuh sayang pada limaribuan yang menyembul dari kantong depan tas saya. “Tante aja, aku adanya limaribuan”.
Pengemis kelihatan gelisah. Kami tidak memberi isyarat penolakan, tapi juga tidak kunjung memberi.
“Udah! Ni ada gopek!” saya bergegas mengoper logam bundar tipis itu kepada tante saya yang kemudian membuka kaca nya sedikit untuk memberikan uang tersebut pada si pengemis bingung.
“Sayang ya lima ribu nya? Palingan dia cuma pura-pura cacat tuh, dikasih banyak malah kesenengan nanti. Udah nipu, dapat lima ribu. Lumayan kan,” timpal tante. Saya mengiyakan dengan tawa. Lalu kembali kami sibuk dalam sihir Blackberry dan telepon genggam masing-masing.
Kali lain, acara persiapan guru sekolah minggu. Belasan orang usia dewasa sedang bingung mencari cara yang tepat untuk menyampaikan pesan “Memberi dengan tulus, tanpa pamrih” untuk anak-anak usia bawah lima tahun sampai Sekolah Dasar. Ditekankan bahwa kami semua, melalui cerita, akan berusaha memberi pengertian mengenai pemberian bagi orang-orang yang sangat membutuhkan kepada anak-anak.
Salah satu senior melempar topik mengenai definisi “orang yang membutuhkan” yang menurutnya, seharusnya diperluas. Dari sekedar orang-orang yang jelas-jelas miskin, yang terlantar di pinggir jalan atau di bantaran kali, menjadi diperluas hingga karyawan rendahan seperti tenaga cleaning service di tempat-tempat umum dan office boy kita di kantor.
Seringkali, hanya karena orang-orang ini punya pekerjaan, kita “menaikkan” kelas mereka secara otomatis dan tidak menggolongkan mereka ke dalam kelompok “orang yang membutuhkan”. Padahal, kita sering secara tidak sengaja mendengar keluhan mereka ketika tidak bisa makan siang karena kurang uang, atau tidak bisa beli baju koko baru saat Lebaran karena bonus tahunan “disunat” manajemen yang merasa kantor tahun ini tidak ketemu target.
“Daripada memberi uang pada orang minta-minta di pinggir jalan yang malas dan kadang cuma pura-pura gendong bayi, lebih baik bantu orang-orang yang begini jenisnya,” kata senior saya, merujuk pada perluasan definisi yang diusulkannya.
Banyak dari kami, termasuk saya dengan pengalaman gopek-an di atas, mengangguk setuju. Bukan apa-apa, saya lumayan hafal dengan sindikat pengemis-pengemis dadakan. Rata-rata dari mereka bermental sama, pemalas. Lebih baik kan, memberi pada orang-orang yang sudah kerja keras tapi tetap saja kekurangan karena kecilnya penghasilan?
Salah satu rekan tiba-tiba mengajukan tangan di tengah adegan “manggut-manggut sepakat”. “Kak, tapi apakah ini berarti kita mengajarkan anak-anak untuk memilah orang-orang yang akan mereka beri dan bantu? Menurut saya, terlepas dari siapa yang akan diberi dan kemana uang itu akhirnya dilarikan, yang penting anak-anak naluri memberinya diasah. Mengerti tentang konsep memberi secara ikhlas”.
Gerakan “manggut-manggut sepakat” berhenti sesaat. Lalu mulai manggut-manggut lagi, menyetujui pendapat rekan yang belakangan.
Saya sendiri berhenti manggut-manggut, karena merasa berdiri di tengah-tengah.
Beberapa bulan yang lalu, percakapan serupa mengemuka di dalam boardroom kantor hukum tempat saya bekerja, saat saya dan rekan-rekan kerja berusaha memilih target untuk Corporate Social Responsibility kami. Kemana bantuan akan ditujukan? Untuk tujuan apa? Apakah untuk pendidikan atau untuk kesehatan? Atau memberi perhatian khusus pada suatu komunitas terlantar?
Salah satu kawan menyatakan bahwa sebaiknya bantuan tidak diberikan untuk pendidikan. Alasannya, dibanding bantuan kesehatan seperti pengobatan gratis, bantuan di bidang pendidikan hasilnya baru muncul dalam jangka waktu yang lebih lama. Belum tentu juga berhasil.
Saat itu, saya pun tidak manggut-manggut atau geleng-geleng. Saya mengerti, orang-orang punya motivasi sendiri-sendiri ketika memberi. Ada yang ingin memastikan bahwa pemberiannya tidak salah orang. Wong kita cari uangnya sudah susah, mosok mau diberikan pada yang nggak butuh-butuh amat atau yang pura-pura butuh? Ada juga yang ingin memastikan bahwa bantuannya pasti membuahkan hasil, dan dalam waktu yang cepat. Repot lah, kalau harus memberi untuk suatu cause yang hasilnya baru akan terlihat dalam jangka waktu lama. Kalau saya keburu mati sebelum hasilnya nongol, bagaimana? Intinya, banyak orang ingin memastikan bahwa pemberiannya tidak sia-sia.
Bila semua orang di dunia ini berangkat dari motif ingin memastikan bahwa pemberiannya tidak sia-sia, repot jadinya. Orang akan cenderung berpikir lama…… (10 menit kemudian)….. sebelum mereka memutuskan untuk memberi. Sama seperti bank mau memberi kredit, orang akan berubah menjadi analyst sebelum mereka memberikan bantuan. Latar belakangnya bagaimana, orangnya kredibel atau tidak (mau membantu tukang becak sama tukang sapu kok ya berpikir kredibel atau tidak?), dan terutama, apakah orang ini akan mempergunakan sumbangan dari pemberi dengan baik ataukah sumbangan ini tidak akan memberi dampak apapun untuk yang dibantu? Dalam kasus-kasus spesifik (tapi tidak langka), pemberi bantuan bahkan berpikir bahwa yang diberi bantuan harus sukses supaya namanya disebut-sebut juga nantinya sebagai penyelamat hidup yang dibantu.
Jangan tertawa. Yang begitu, banyak.
Kalau sudah demikian rumit dan banyak pertimbangannya, biasanya berakhir pada mosi “tidak jadi memberi karena tidak sreg dan kurang percaya”, yang bila diulang-ulang maka menyebabkan pelit dan egois permanen. Seumur hidup tidak pernah menindaklanjuti niatan untuk memberi bantuan karena, ya itu tadi, nggak yakin. Kalaupun memberi, banyak juga yang akhirnya tidak ikhlas. Ya memberi dengan ada rasa curiga jelas bukan pemberian yang ikhlas kan?
Karena ribut-ribut kecil di ruang persiapan, saya jadi membongkar ulang memori dan pemahaman saya soal beri-memberi dan bantu-membantu. Lucu, motif-motif semacam itu tidak pernah muncul di kepala saya sewaktu aktif kerja sosial. Tidak pernah mikir bahwa anak-anak harus tembus universitas semuanya, atau jadi ranking satu, atau nanti jadi presiden. Tidak pernah ada expectation yang berlebihan. Yang penting, anak-anak bisa memuaskan keinginan untuk belajar, dan anak-anak tahu bahwa mereka punya orang yang mendukung habis bila mereka ingin mengecap pendidikan. Itu saja. Meski, harus diakui bahwa perasaan tidak rela memberi gopek pada pengemis berpotongan malas sering juga munculnya.
Mungkin seharusnya pola pikir saya yang awal itu yang saya pertahankan. Saya ingat, ibu sahabat saya di SMA pernah bilang kurang lebih begini sehabis memberi pada pengamen di pinggir jalan; “Kalau ngasih, ya ngasih aja. Ikhlaskan. Yang penting niatmu baik, nggak usah dipikirin kemana akhirnya, dibuat apa uangnya. Didoakan waktu memberi, minta Allah yang atur supaya kegunaan uangnya untuk hal-hal yang baik”. Bijaksana sekali. Beliau punya poin yang sama dengan rekan saya di sekolah minggu. Terutama saat mengajar pada anak-anak kecil, memberi dengan ikhlas tanpa mengharap timbal balik adalah sesuatu yang harus ditulis dalam huruf besar, digarisbawahi dan ditebalkan. Tuhan sudah begitu baik memberikan limpahan karunia dan anugerah, masa untuk give back saja dilakukan dengan perasaan curiga dan tidak ikhlas?
Relakan, doakan, dan rasakan betapa hangatnya hati saat melihat senyum orang-orang yang dibantu. Kebahagiaan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata, lebih berharga dari kata terimakasih dan bahkan dari perasaan ingin melihat hasil akhir bantuan.
Lama, baru saya ikut dalam gerakan “manggut-manggut sepakat”. Kali ini bukan karena manggut-manggut kawan saya “nyetrum”, tapi karena saya benar-benar sepakat. Mulai besok, tidak boleh curiga lagi waktu memberi uang pada pengemis, batin saya.
Daripada kelamaan mikir?
Gambar diambil (dan merupakan miliknya) sini.
Filed under: Kindness, Personal Statements, The Heart of The Matter | 1 Comment »